Selasa, 06 November 2012

STRATEGI PENGELOLAAN EKOWISATA PADA KAWASAN HUTAN LINDUNG GUNUNG SIRIMAU (KASUS : DESA SOYA KECAMATAN SIRIMAU KOTA AMBON)

Disusun Oleh         : Olivia Souissa
Edit & Publikasi    : Benjamin. Th. Soumokil

LATAR BELAKANG
Peta Zona Pengendalian Hutan Lindung Gunung  Sirimau Kota Ambon
Pembangunan berkelanjutan (Sustainable development) dapat diartikan sebagai kelestarian yang menyangkut aspek fisik, sosial, politik dan ekonomi dengan memperhatikan pengelolaan sumber daya alam yang mencakup hutan, tanah dan air, pengelolaan dampak lingkungan, serta pembangunan sumber daya manusia (human resources development). Salah satu kegiatan pembangunan berkelanjutan adalah sektor pariwisata, sebab dari sektor pariwisata dapat dimanfaatkan sebagai peluang lapangan kerja bagi masyarakat sekitar dan sekaligus mendatangkan devisa yang mendukung pencapaian pendapatan asli daerah.
Pariwisata sebagai salah satu sektor pembangunan yang tidak dapat dilepaskan karena sangat terkait dengan pembangunan berkelanjutan yang telah dicanangkan oleh pemerintah sesuai dengan tujuan pembangunan nasional.Pariwisata memiliki potensi yang memungkinkan bagi perumusan strategi pembangunan di negara-negara berkembang, sehingga dianggap sebagai pintu masuk bagi kesejahteraan masyarakat. Selain sebagai sumber penerimaan devisa, pariwisata dirasakan juga memiliki banyak elemen yang dapat mendorong transformasi ekonomi, dari karakter negara pertanian yang tradisional menuju masyarakat modern industrial.
Pembangunan pariwisata berkelanjutan, dapat dikatakan sebagai pembangunan yang mendukung secara ekologis sekaligus layak secara ekonomi, juga adil etika dan sosial terhadap masyarakat. Sesuai dengan isi pasal 5 UU No. 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, pengembangan ekoturisme di kawasan pelestarian alam seperti taman nasional, taman hutan raya maupun hutan lindung harus memenuhi tiga prinsip yaitu pertama menjamin perlindungan sistem penyangga kehidupan, kedua adalah memelihara pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, ketiga menyangkut pemanfaatan secara lestari suberdaya hayati. Dengan adanya sektor pariwisata maka sangat penting untuk dikembangkan bersama baik dari pihak pemerintah maupun dari semua pihak.
Kebijaksanaan pengembangan objek wisata alam dilandasi beberapa Peraturan Perundangan yang telah disusun menunjang pengembangan kegiatan pariwisata alam dan upaya konservasi antara lain
  • UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya
  • UU No. 5 Tahun 1990 pasal 34 ayat 4 yaitu memberi kesempatan kepada rakyat untuk ikut berperan dalam usaha di kawasan pelestarian alam
  • SK Menteri Kehutanan No. 68/KPTS-II tahun 1989 tentang Pengusahaan Hutan Wisata, Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Laut
  • PP No. 18 tahun 1994 tentang Pengusahaan Pariwisata Alam di Zona Pemanfaatan Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam
  • PP No. 18 tahun 1994 pasal 11
Secara Topografis, Negeri Soya berbukit-bukit yang merupakan gejala morpologis. Negeri Soya adalah sebuah Negeri Adat, terletak di pinggir Kota  Ambon, dengan puncak Gunung Sirimau sebagai Icon-nya. Keadaan demikian menjanjikan kesuburan tanah yang dapat diusahakan dengan tanaman buah-buahan dan tanaman umur panjang lainnya. Dengan Letaknya di ketinggian daerah pegunungan  serta curah hujan yang cukup tinggi,  maka Negeri Soya memiliki hutan yang subur, dengan ditumbuhi aneka ragam tanaman dan tumbuh-tumbuhan liar. Semua sunga yang bermuara di pantai Teluk Ambon mulai dari Waihaong sampai ke pantai Passo, bersumber di lereng-lereng Gunung Sirimau dari petuanan Negeri Soya.
Karena letaknya diketinggian, Negeri di Kaki Gunung Sirimau ini amat sejuk, karena berhembusnya angin barat. Suasana ini  benar-benar membawa kita dalam suasana rileks. Negeri ini pula memiliki cukup banyak flora yang tumbuh secara liar di hutan dan dapat dikoleksi. Bukan hanya itu, Negeri Soya kaya dengan buah-buahan seperti, Durian(Durio zibentinus), Manggis(Garcinia mangostana), Lachi(Litchi chinensis), serta Salak(Salacca amboninensis). Bahkan buah-buahan ini telah menjadi trade mark, bagi buah-buahan yang ada di Kota Ambon karena kelezatannya dan selalu segar. Sejumlah hasil hutan lain  yang dipandang cukup produktif bagi pengembangan ekonomi rakyat adalah, damar, kayu untuk ramuan rumah, rotan, dan lain-lain. Negeri ini juga kaya dengan tanaman rempah-rempah antara lain : pala(Myristica fragrans), cengkih(Syzygium aromaticum),  serta kelapa(Cocos nucifera). Dengan keragaman hayati dan flora yang ada, serta alamnya yang subur, maka tak heran jika sebagian besar penduduknya adalah petani, disamping sebagai penyadap pohon aren (tifar). Hasil dari penyadapan pohon aren (mayang) sebagian besar dijadikan sopi (alkohol) yang selanjutnya dijual ke Kota Ambon. Negeri Soya dalam kenyataannya menjadi salah satu daerah hinderlandbagi Kota Ambon dalam mensuplay berputarnya roda ekonomi pasar.
Hutan lindung sirimau merupakan ekosistem hutan yang berfungsi menyangga kehidupan, yakni untuk mengatur tata air, mencegah banjir dan erosi, serta memelihara keawetan dan kesuburan tanah. Selain sebagai sisitem penyangga kehidupan, Hutan Lindung Gunung Sirimau merupakan Daerah Tangkapan air bagi Kota Ambon. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan ada kegiatan atau aktifitas produksi / penebangan di dalamnya.
Kawasan Hutan Lindung Gunung Sirimau memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang tinggi serta potensi objek wisata. Selain sebagai kawasan Hutan Lindung Gunung Sirimau juga memberikan manfaat secara ekologis bagi daerah di sekitarnya. Selain memberikan manfaat bagi masyarakat dan perekonomian daerah, Hutan Lindung Gunung Sirimau juga dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan setempat jika pengelolaanya tidak direncanakan secara baik akan menimbulkan kerugian di masa mendatang.  Permasalahan utama yang terjadi adalah belum didayagunakan secara optimal potensi yang ada, misalnya dalam pengelolaan kawasan Hutan Lindung Gunung Sirimau, masih kurang adanya campur tangan pemerintah setempat dalam pengelolaan sehingga objek wisata tersebut terabaikan. Kurangnya kepedulian dari pemerintah dan  masyarakat terhadap keberadaan objek wisata tersebut maka berimplikasi pada pemeliharaan dan pengembangan wisata seperti, dalam Hutan Wisata Gunung Sirimau. Selain permasalahan pengunjung,ketersediaan sarana dan prasarana dasar belum memadai dan belum ada upaya pemberdayaan masyarakat yang berada di sekitar kawasan hutan lindung tersebut, sehingga masyarakat belum memiliki kesadaran untuk menjaga dan melestarikan sumberdaya yang ada. Dengan adanya kompleksitas permasalahan di kawasan Hutan Lindung Gunung Sirimau maka diperlukan suatu penelitian untuk mengetahui berbagai potensi dan prospek pengembangannya, sehingga dapat dirumuskan strategi pengembangan ekowisata di kawasan tersebut. Dengan demikian, pengembangan ekowisata di Hutan Lindung Gunung Sirimau diharapkan tidak bertentangan dengan fungsi utamanya sebagai hutan lindung.
Hutan Lindung Gunung Sirimau mempunyai potensi alam yang khas dimana keanekaragaman flora dan fauna serta budayanya. Adanya potensi sumber daya alam Kawasan Hutan Lindung Gunung Sirimau belum didayagunakan secara optimal dalam pengelolaan kawasan wisata.  Terkait dengan hal tersebut, ada beberapa perumusan masalah yang ada di kawasan Hutan Lindung Gunung Sirimau :
a.  Belum adanya upaya inventarisasi potensi pengembangan wisata berbasis lingkungan dan masyarakat (ekowisata)
b.    Bagaimana strategi pengelolaan ekowisata pada kawasan Hutan Lindung Gunung Sirimau
c.    Apa prioritas strategi yang tepat dalam pengelolaan Hutan Lindung Gunung Sirimau
 

KEADAAN UMUM HUTAN LINDUNG GUNUNG SIRIMAU
Letak Geografis dan Administrasi
Letak Hutan Lindung Gunung Sirimau secara administratif sesuai dengan Peraturan Kota Ambon Nomor 2 Tahun 2006 berada pada 3 (tiga) Wilayah Kecamatan yaitu Kecamatan Sirimau (petuanan Desa Soya dan STAIN-Air Besar Desa Batumerah), Kecamatan Teluk Ambon Baguala (Petuanan Desa Passo dan Desa Halong), dan Kecamatan Leitimur Selatan (Petuanan Desa Hutumuri, Desa Rutong, Desa Lehari dan Desa Hukurila).
Negeri Soya adalah sebuah Negeri Adat, terletak di pinggir Kota  Ambon, dengan puncak Gunung Sirimau sebagai Icon-nya. Negeri ini berada di ketinggian ± 464 M dari permukaan laut, berbatasan; sebelah Timur dengan Negeri Hutumury dan Negeri Leahary; sebelah Barat dengan Negeri Urimessing;   Sebelah Barat Laut dengan Kota Ambon sebelah selatan dengan Negeri Hatalai, Naku Kilang dan Ema; dan sebelah Utara dengan Laut Teluk Ambon. Suhu udara pada umumnya berkisar antara 20° - 30° C.

Keadaan Geologi
Peta Geologi Pulau Ambon
Menurut Peta Geologi Pulau Ambon yang dikeluarkan oleh Direktorat Geologi Departemen Pertambangan dan Energi Peta Geologi Kota Ambon Skala 1:100.000 Tahun 2008, kondisi geologi Hutan Lindung Gunung Sirimau dibentuk oleh 4 (empat) formasi batuan, yaitu : Formasi Kanike (bagian tengah dari hutan lindung), Batuan Gunung Api Ambon (Tpav) yang berupa material lepas yang terdiri dari lava andesit, dasit dan breksi tuf. Pada bagian dekat pantai didominasi oleh Batuan Gamping Koral (Q1) yang terdiri dari koloni koral, ganggang dan bryozoa yang secara fisik berwarna putih–kotor, keras, berongga-rongga yang terisi kalsit dan pecahan koral Batuan Ultramafik.

Topografi
Berdasarkan Peta Kemiringan Lereng Kota Ambon skala 1 : 100.000 Tahun 2008 maka keadaan topografi Hutan Lindung Gunung Sirimau di kelompokan dalam dalam 5 kelas yaitu : datar (0-3 persen), landai (3–8 persen), bergelombang (8-15 persen), agak curam (15–30 persen) dan curam (30-40 persen). Ketinggian tempat berdasarkan hasil pengukuran GPS pada lokasi penelitian berkisar antara  50 – 525 m dari permukaan laut (dpl). Berdasarkan hasil analisis spasial kontur pada peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) Skala 1:25.000 menggunakan software tambahan (extension software) 3D Analist dan Spatial Analist.

Keadaan Iklim
Data iklim lokasi penelitian diperoleh dari Stasiun Metereologi dan Geofisika Karang Panjang Ambon selama sepuluh tahun terakhir (1999-2009) dapat dilihat pada Tabel 8.
Berdasarkan klasifikasi iklim oleh Schmidth dan Ferguson (1951), Kota Ambon termasuk tipe iklim B dengan nilai Q sebesar 16,5 persen  (klasifikasi basah nilai Q : 14,3 – 33,3 persen) yang dicirikan oleh rataan bulan kering (Curah hujan < 60 mm) sebesar 1,4 bulan dan jumlah rata-rata bulan basah (curah hujan > 100 mm) sebesar 8,5 bulan.
Data curah hujan berdasarkan Tabel 8, menunjukkan bahwa rata-rata curah hujan tahunan di daerah penelitian sebesar 316,8 mm per tahun, dengan curah hujan tertinggi terjadi pada bulan agustus yaitu sebesar 771,4 mm dan terendah terjadi pada bulan maret sebesar 98.2 mm. curah hujan yang demikian tinggi turut memberi pengaruh terhadap proses-proses fotosintesis dan pertumbuhan tanaman atau vegetasi di daerah penelitian, selain faktor lainnya yang juga turut berperan dalam proses penambatan karbon.
Suhu udara rataan tahunan di kota Ambon berkisar antara 21,2 0C (bulan Agustus) sampai 28,6 0C (Maret). Suhu udara maksimum di kota Ambon tidak melebihi 32 0C, sedangkan suhu udara minimum jarang mencapai 20 0C. Lama penyinaran matahari rataan tahunan sebesar 61,85 persen berkisar antara penyinaran terendah pada bulan Mei sebesar 50.90 persen dan terrendah pada bulan Nopember sebesar 83.60 persen. Lamanya penyinaran matahari sangat mempengaruhi prose Fotosintesis untuk pembentukan karbon. Kelembaban udara di kota Ambon umumnya tinggi sepanjang tahun, rata-rata di atas 72,2 persen. Kelembaban udara rataan bulan tertinggi sebesar 87 persen terjadi pada bulan Juni dan terendah 67 persen pada bulan Januari dan Pebruari.

Keadaan Sosial Ekonomi
Berdasarkan data Statistik Kota Ambon Tahun 2009 maka jumlah penduduk yang berada di sekitar lokasi Hutan Lindung Gunung Sirimau sejumlah 81.103 orang. Jumlah penduduk terpadat berada pada Desa Batumerah sebesar 37.408 jiwa sedangkan penduduk terrendah berada pada Desa Hukurila sebanyak 688 jiwa. Jumlah peduduk yang padat jika tidak diimbangi dengan kesediaan lahan untuk permukiman maka akan sangat berpotensi pada terjadinya penyerobotan lahan ke dalam hutan lindung serta kebutuhan hidup masyarakat yang berada di sekitar hutan sangat bergantung pada hasil hutan. Salah satu indikator untuk melihat keadaan sosial ekonomi pada suatu daerah adalah melalui mata pencaharian.
Mata pencaharian penduduk di dominasi oleh pekerjaan lain-lain (tenaga buruh, pedagang, nelayan dan lain-lain) sebanyak 7.680 Orang. Untuk desa-desa yang berdekatan dengan daerah perkotaan hampir sebagian besar masyarakatnya bekerja pada Instansi Pemerintah, Swasta dan menjual jasa, sedangkan desa-desa yang jauh dari daerah perkotaan memiliki mata pencaharian yang di sesuaikan dengan musim. Saat musim timur (bulan Mei s/d Oktober) penduduk akan mengusahakan lahan-lahan/petuanan untuk tanaman pertanian sedangkan pada saat musim barat (bulan Desember s/d Maret) penduduk yang berada di pesisir-pesisir pulau akan pergi kelaut untuk mencari ikan.
Untuk penduduk yang bermata pencaharian petani (1.200 orang) hampir sebagian besar memiliki areal pertanian/petuanan di dalam kawasan Hutan Lindung Gunung Sirimau dimana setiap pembukaan lahan untuk lokasi pertanian dilakukan dengan menebang pohon-pohon kemudian digantikan dengan tanaman-tanaman pertanian, perkebunan dan tanaman-tanaman buah-buahan.

Tata Guna Lahan
Penatagunaan hutan kesepakatan adalah kegiatan guna menentukan peruntukan hutan di wilayah yang bersangkutan menurut fungsinya, yang didasarkan atas kesepakatan antara instansi yang berkaitan dengan pengunaan  lahan.  Dasar-dasar pertimbangan dalam penyusunan rencana penatagunaan hutan kesepakatan adalah letak dan keadaan hutan (antara lain potensi, flora dan fauna), topografi, keadaan   dan sifat tanah, iklim, keadaan dan perkembangan masyarakat dan keterangan lain-lain yang ditetapkan dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 680/Kpts/Um/8/1993 dan dipertegas oleh Keputusan Presiden  RI Nomor 32 Tahun 1990 tentang pengelolahan kawasan lindung berdasarkan skoring/faktor penciri.
Hasil survei dan penjumlahan skoring dari faktor-faktor penciri (kemiringan lereng, jenis tanah menurut kepekaannya terhadap erosi dan faktor curah hujan). Dengan jumlah nilai sama dengan atau lebih dari 175 atau memenuhi salah satu atau beberapa syarat yang tesedia maka lahan tersebut di kelompokan dalam Hutan Lindung, Hutan Produksi Terbatas dengan jumlah skoring 125-174 dan Hutan Produksi Bebas dengan jumlah skoring < 124.
Kawasan Hutan Lindung Gunung Sirimau merupakan kawasan hutan yang keberadaannya perlu dilindungi baik flora maupun fauna dari ancaman kerusakan yang ditimbulkan oleh alam sendiri maupun manusia. Jenis-jenis Flora yang terdapat dalam kawasan Hutan Lindung Gunung Sirimau adalah : jenis kayu (Peterocarpus indicus), kenari (Canarium commune), damar (Agathis alba), matoa (Pometia pinata) dan jambu-jambuan (Eugenia sp.) adapun jenis fauna yang terdapat dalam kawasan tersebut antara lain : nuri raja (Alisterus amboinensis), perkicit (Triholousus spp), babi hutan (Sus crova) dan lain-lain. Pada beberapa tempat dalam Hutan Lindung Gunung Sirimau terdapat pembukaan areal untuk perkebunan cengkeh (Syzygium aromaticum) bahkan dusun-dusun cengkeh (Syzygium aromaticum) sudah sampai di hulu sungai (sumber air) sehingga pada musim kemarau sangat mempengaruhi debit aliran sungai.
Berdasarkan kedua dasar di atas maka pada tahun 1993 dilakukan penataan tata batas Hutan Lindung Gunung Sirimau dengan panjang batas 28.269,17 m dan ditetapkan sebagai kawasan hutan tetap dengan Fungsi Hutan Lindung sesuai Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 10327/Kpts-II/2002, tanggal 30 Desember 2002, dengan luas 3.449 ha.
Hasil pengamatan di lapangan dan data sekunder (peta penutupan lahan Kota Ambon tahun 2008 dan hasil survei kebun plasma nutfah di Kota Ambon, 2007) Penggunaan lahan di dalam kawasan Hutan Lindung Gunung Sirimau sangat bervariasi dari yang masih berupa hutan sampai kegiatan permukiman. Kondisi hutan lindung dikelompokan menjadi 5 (lima) kelompok yaitu : hutan lahan kering primer, hutan lahan kering sekunder, semak belukar, pertanian lahan kering dan permukiman.
Secara yuridis kawasan ini termasuk kawasan Hutan Lindung yang dikukuhkan dengan Surat Keputusan menteri tetapi secara de facto kawasan ini merupakan petuanan / dusun-dusun masyarakat. Sehingga dalam pengelolaannya masyarakat lebih mengutamakan prinsip hasil untuk menunjang kesejahteraan keluarga.
Proses pengelolaan hutan (dari hutan primer) yang dilakukan oleh masyarakat yaitu menebang pohon-pohon besar yang kurang mempunyai nilai ekonomi, membakarnya kemudian menanaminya dengan tanaman-tanaman perkebunan. (hutan sekunder, pertanian lahan kering). Pada saat mendekati panen maka lahan/dusun  kembali dibersihkan untuk menanti panenan kemudian lahan ditinggalkan kembali, sedangkan untuk lahan perladangan berpindah setelah selesai menikmati hasil panennya maka masyarakat akan berpindah ke tempat yang baru mencari daerah yang subur.
Diduga daerah bekas-bekas perladangan berpindah inilah yang beralih peruntukannya dari hutan sekunder menjadi pertanian lahan kering dan semak belukar akibat adanya campur tangan manusia dan suksesi alami. Pada Tahun 2005 terjadi kebakaran hutan pada kawasan Hutan Lindung Gunung Sirimau yang disebabkan secara alami dampak dari kebakaran tersebut  diduga telah menyebabkan terjadinya perubahan lahan dari hutan lahan sekunder menjadi semak belukar. Kayu-kayu bekas kebakaran hutan yang terdekomposisi kedua hal ini juga turut memberikan sumbangan emisi CO2 ke udara. Pada daerah pertanian lahan kering yang berdekatan dengan  pemukiman bentengkarang di Wailiha telah dibangun  tempat pembuangan sampah (IPST) hal ini juga merupakan sumber metana (CH4) yang dapat juga turut memberikan sumbangan emisi CO2 ke udara.

Hidrologi
Pola drainase (drainage pattern) daerah Soya termasuk dalam tipe dendritik. Tiga sungai yang besar adalah Air Basar yang bermuara di pantai Batu Merah dan pantai Galala, Wai Ruhu yang bermuara di pantai Galala, Wai Yori yang bermuara di pantai Passo, dan Wai Toisapu yang bermuara di toisapu. Proses hidrologi dari hilir ke sungai pada saat musim hujan debit air akan meluap dan pada saat musim kemarau debit air akan menurun bahkan sampai mengering.

Aksesibilitas
Untuk mencapai Negeri Soya dapat digunakan kenderaan jenis apapun dengan kondisi jalan yang berliku-liku namun mulus, dengan jarak kurang lebih 4 Km dari pusat Kota Ambon. Kendaraan umum yang dapat digunakan untuk sampai ke lokasi ini yaitu angkutan kota dengan jurusan soya. Angkutan ini akan berhenti di depan pintu masuk kawasan dengan tarif Rp 2.500 per orang

 
POTENSI PENAWARAN WISATA
Objek dan Daya tarik Wisata Alam (ODTWA)
Hutan Lindung Gunung Sirimau (HLGS) mempunyai potensi sumber daya alam yang tinggi dan budayanya untuk pengembangan ekowisata. Potensi penawaran ekowisata HLGS yaitu obyek wisata yang memiliki daya tarik dan keunikannya, seperti potensi biofisik dan potensi budaya. Keindahan panorama alam, keanekaragaman flora, fauna yang beragam serta tantangan medan yang kerap manjadi daya tarik tersendiri, juga keragaman budaya masyarakat adalah aset potensial bagi kawasan Hutan Lindung Gunung Sirimau untuk pengembangan ekowisata. Penawaran ekowisata merupakan suatu bentuk ekologi dan estetika alami dengan berbagai bentuk ekosistem yang dimiliki oleh suatu kawasan. Potensi ini menjadi obyek wisata yang ditawarkan kepada masyarakat umum (Tropenbos International Indonesia 2006).

1.    Pemandangan Alam
Pemandangan Alam yang terlihat dari atas Gunung Sirimau
Kawasan HLGS memiliki kondisi jalan yang baik yang menuntut para pengunjung untuk menaiki anak tangga yang panjang untuk menuju lokasi sehingga mempunyai tantangan tersendiri bagi pengunjung yang menyenangi tantangan. Untuk menuju puncak gunung,  sepanjang jalur tersebut  pengunjung akan menjumpai pohon-pohon yang beragam ukuran dan jenisnya seperti damar (Agathis alba), durian (Durio zibentinus), kecapi (Sodoricum koetjape), manggis (Garcinia mangostana), duku (Lansium domesticum), salak (Salacca amboninensis), anggrek kelapa (Phalaenopsis amabilis) dan lain-lain  Suasana lembab dan minimnya inensitas cahaya matahari yang menembus lantai hutan serta hembusan angin semakin menambah suasana kesejukan saat berjalan. Di dalam perjalanan ke puncak gunung, pengunjung dapat berisitirahat sejenak pada tempat-tempat duduk yang telah dibuat oleh Dinas Pariwisata. Dari sini pengunjung dapat melihat secara langsung pemandangan Kota Ambon dengan udara yang sejuk serta pegunungan yang indah. 

2.   Daya tarik Biologi
1.    Flora
Kawasan Hutan Lindung Gunung Sirimau merupakan kawasan hutan yang keberadaanya perlu dilindungi baik flora maupun fauna dari ancaman kerusakan yang ditimbulkan oleh alam sendiri maupun manusia.
Hutan Lindung Gunung Sirimau memiliki flora yang dapat menjadi obyek yang menarik bagi para pengunjung yang terdiri dari hutan primer dan hutan sekunder, khususnya untuk tujuan pendidikan dan penelitian. Jenis-jenis flora yang terdapat dalam kawasan Hutan Lindung Sirimau adalah kayu merah (Eugenia rumphii), damar (Agathis alba), nani (Metrosideros petiolata),  arupa (Ganua boerlageana), asoer (Podocarpus rumpii), haleki daun kecil (Macaranga involucrate Bl), haleki daun besar (Macaranga hispida Bl), husor (Garcinia cornea), katapang (Terminalia catappa), nanari (Canarium sylvestre), parua (Helicia molluccana), taheru (Weinanmia froxinea Smith), okir (Schizomeria serrata Hochr), manggis (Garcinia manggostana), Palala (Knema sp), gondal (Ficus septica), cengkeh (Syzygium aromaticum), pala (Myristica fragrans), bintanggur (Callophyllum inophyllum).
·      Kondisi vegetasi pada Hutan Lindung Gunung Sirimau
·      Kerapatan spesies
·      Frekuensi spesies
·      Dominansi spesies
·      Indeks Nilai Penting
·      Keragaman Jenis
2.    Fauna
Hutan Lindung Gunung Sirimau memiliki keanekaragaman fauna, berdasarkan wawancara dengan masyarakat setempat maupun pengamatan secara langsung terhadap keberadaan satwa yang pernah dan sering terlihat di kawasan HLGS, yaitu yang ditandai dengan penemuan jejak berupa jejak kaki, jejak cakaran pada pohon dan kayu, suara,  jejak feses dan bekas makanan yang telah dimakan oleh satwa pada jalur menuju kawasan. Adapun jenis fauna yang terdapat dalam kawasan tersebut adalah nuri raja (Alisteris ambonensis), perkicit (Triholousus spp), maleo (Macrocephalon maleo), bayan (Electus rotatus), kakatua putih (Cacatua alba), raja udang (Halcyon soneta), pombo (Ducula becolor), elang (Heliactus sp), lawa-lawa (Colocalia esculenta) , hantu (Otus migicus beccarii) dan untuk jenis  mamalia khas Maluku yaitu                          kus-kus (Phalanger orientalis), dan babi hutan (Sus crova).

Wisata Sosial Budaya
1.    Kebudayaan Negeri Soya
Selain potensi alam Kawasan Hutan Lindung Gunung Sirimau juga kaya akan wisata budaya dengan tetap menjaga pelestarian hutannya. Salah satu wisata budaya yang terkenal yaitu dari Negeri Soya. Negeri Soya  tidak dapat dipastikan kapan berdirinya. Negeri ini termasuk Negeri yang tertua di Jasirah Leitimor. Berdasarkan penuturan dan cerita-cerita tua,  Leluhur yang mendiami negeri Soya berasal dari Nusa Ina (Pulau Seram) antara lain,  dari Seram Utara, kurang lebih  tempatnya dekat Sawai suatu wilayah yang bernama “Soya”, serta  dari Seram Barat (sekitar daerah Tala).
Dari sumber cerita yang ada, perpindahan para leluhur orang Soya datang secara bergelombang yang kemudian menetap di Negeri Soya. Mereka membentuk clan baru yang kemudian menjadi  nama pada tempat kediamanya yang baru. Nama ini  sama dengan nama di tempat asalnya. Hal mana dimaksudkan  sebagai kenang-kenangan atau peringatan.
Negeri Soya kemudian berkembang menjadi satu kerajaan dengan sembilan Negeri Kecil yang dikuasai Raja Soya. Adapun kesembilan negeri kecil tersebut yakni :
± Uritetu, suatu negeri yang diperintah oleh “Orang Kaya”. Negeri ini letaknya sekitar Hotel Anggrek. Uritetu artinya dibalik bukit. 
± Honipopu,  adalah sebuah negeri yang diperintah oleh “Orang Kaya”. Negeri ini  letaknya di sekitar Kantor Kota Ambon saat ini.
± Hatuela,  juga di bawah pimpinan seorang “Orang Kaya”, letaknya di antara Batu Merah dan Tantui sekarang. Hatuela artinya Batu Besar.
± Amantelu, dipimpin oleh  seorang “Patih”, yang  letaknya dekat Karang Panjang. Amantelu artinya, Kampung Tiga.
± Haumalamang, dipimpin seorang “Patih”, letaknya belum dapat dipastikan. (diperkirakan di negeri Baru dekat Air Besar).
± Ahuseng,  dipimpin oleh “Orang Kaya”,  letaknya di Kayu Putih sekarang.
± Pera,  dipimpin oleh “Orang Kaya”, letaknya di Negeri Soya sekarang
± Erang,  dipimpin oleh “Orang Kaya”, letaknya di belakang Negeri Soya sekarang. Erang berasal dari nama “Erang Tapinalu” (Huamual di Seram). 
± Sohia,  adalah Negeri tempat kedudukan Raja, letaknya antara Gunung Sirimau dan Gunung Horil.
Setiap Rumah Tau (mata rumah) yang ada memilih salah satu batu yang dianggap sebagai batu peringatan kedatangan mereka pada pertama kalinya di Negeri Soya. Batu-batu ini dianggap sebagai perahu-perahu yang membawa mereka ke tempat dimana mereka akhirnya berdiam dan yang lasim disebut “Batu Teung”. Saat ini di Soya dapat  ditemukan beberapa Teung antara lain :
1.       Teung Tunisou untuk semua Rumah Tau
2.       Teung Samurele untuk Rumah Rehatta
3.       Teung Souhitu untuk Rumah Tau Tamtelahittu
4.       Teung Saupele untuk Rumah Tau Huwaa
5.       Teung Paisina untuk Rumah Tau Pesulima
6.       Teung Rulimena untuk Rumah Tau Soplanit
7.       Teung Pelatiti untuk Rumah Tau Latumalea
8.       Teung Hawari untuk Rumah Tau Latumanuwey
9.       Teung Soulana untuk Rumah Tau de Wana
10.   Teung Soukori untuk Rumah Tau Salakory
11.   Teung Saumulu  untuk Rumah Tau Ririmasse
12.   Teung Rumania untuk Rumah Tau Latuconsina
13.   Teung Neurumanguang untuk Rumah Tau Hahury
14.   Teung Niurumanguang untuk Rumah Tau Hahury
Peta Teung di Negeri Soya
Diantara teung-teung yang ada,  terdapat dua tempat yang mempunyai arti tersendiri bagi anggota-anggota clan tersebut yakni : (1) Baileo Samasuru, yaitu tempat berapat dan berbicara; (2)  Tonisou, yaitu suatu perkampungan khusus bagi Rumah Tau Rehatta yang di dalam suhat pun disebut sebuah Teung. Beberapa diantara Rumah Tau tersebut tidak lagi menetap di Negeri Soya, begitu pula beberapa Negeri Kecil yang pernah ada  telah hilang disebabkan beberapa faktor dan perkembangan masyarakat.
Raja Soya yang pertama adalah “Latu Selemau” dan istrinya bernama Pera Ina. Dibawah pemerintahan Latu Selemau, Negeri Soya (termasuk  9 negeri kecil yang berada dibawah kekuasaannya),  merupakan suatu kesatuan besar. Dalam masa kebesarannya, Latu Selemau dianugerahkan beberapa gelar antara lain “Nusa Piring Pahlawan” atau “Piring Pekanussa”. Salah satu gelar yang lebih agung yang merupakan bukti kebesarannya ialah : “Latu selemau agam raden mas sultan  labu inang mojopahit  Gelar ini berkenaan dengan hubungan politik dan hubungan dagang, bahkan perkawinan dengan orang-orang dari Kerajaan Majapahit.

a.   Sistem Pemerintahan Negeri
Adapun sistem pemerintahan negeri Soya pada mulanya merupakan sistem   Saniri Latupatih yang terdiri dari :
§  Upulatu (Raja)
§  Para Kapitan
§  Kepala-Kepala Soa (Jou), Patih dan Orang Kaya
§  Kepala Adat (Maueng)
§  Kepala Kewang
Saniri Latupatih dilengkapi dengan “Marinyo” yang biasanya bertindak sehari-hari sebagai  yang menjalankan fungsi hubungan masyarakat dan pembantu bagi badan tersebut. Saniri Latupatih dapat dianggap sebagai Badan Eksekutif.
Saniri Besar yaitu persidangan besar yang biasanya diadakan sekali setahun atau bila diperlukan. Persidangan Saniri Besar dihadir oleh Saniri Latupatih dan semua laki-laki yang telah dewasa dan orang-orang tua yang berada dan berdiam dalam negeri. Persidangan Saniri Besar merupakan suatu bentuk implementasi sistem demokrasi langsung (direct democraties). 
Dalam perkembangannya, kemudian dibentuk pula Saniri Negeri yang terdiri dari Saniri Latupatih ditambah dengan unsur-unsur yang ada dalam negeri misalnya : pemuda, dan organisasi-organisasi dari anak negeri yang ada. Persidangan Saniri Negeri dapat dianggap sebagai persidangan legislatif

b.   Budaya Dan Agama
Gereja Soya
Penduduk Negeri Soya adalah masyarakat yang ramah dan religius, dengan gotong royong sebagai ciri khas masyarakat negeri penghasil durian dan salak ini. Nilai-nilai adat dan budaya seperti : Naik Baileo, cuci air, kain gandong, naik ke gunung Sirimau, selalu terpelihara dengan baik dan merupakan sebuah tradisi budaya yang telah menjadi Icon negeri dari turun temurun hingga saat ini.
Sejumlah kekayaan peninggalan sejarah seperti gereja Soya, memberi nilai tersendiri bagi negeri ini. Letak gereja tua Soya yang selama ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya, berada di tengah-tengah Negeri Soya, merupakan tempat yang sangat strategis karena berdampingan dengan sekolah dan Balai Pertemuan serta Rumah Raja. Sebagai Negeri yang kaya dengan nilai budaya dan adat istiadat,  Negeri Soya merupakan salah satu daerah tujuan wisata di Maluku. Situs Gereja Tua Soya adalah salah  satu tempat yang selama ini paling banyak dikunjungi oleh wisatawan dalam maupun luar negeri, disamping tempat-tempat lain seperti;Tempayang yang selalu berisi air walaupun tidak hujan yang berada di  tengah puncak Gunung Sirimau.
Tempayan Soya
Sebelum kedatangan bangsa Portugis  di Maluku, Negeri Soya merupakan sebuah kerajaan  yang berdaulat dengan wilayah kekuasaan meliputi, Teluk Ambon sampai ke Passo, Pesisir Pantai Timur sampai Selatan Jazirah Leitimor, dibawah pemerintahan Raja yang terkenal saat itu yakni “Latu Selemau” dengan Panglima Perangnya “Kapitan Hauluang” .  Raja dan Panglima perang ini dibantu  kapitan-kapitan kecil sebagai kepala pasukan tombak, panah, dan parang salawaku, dengan kekuatan 300 orang prajurit yang didukung oleh kurang lebih 1000 orang rakyat.
Hubungan dagang kerajaan Soya dengan Hitu, Ternate, dan Tidore bahkan Raja-Raja Goa terjadi pada akhir abad 14 saat Kerajaan Mojopahit telah pudar kekuasaannya dan kerajaan Islam mulai tumbuh. Bersamaan dengan itu, masuklah Armada Portugis yang menjadikan Kerajaan Soya kurang dipengaruhi oleh budaya Hindu maupun Islam.
Masyarakat Negeri Soya ternyata tidak menerima kedatangan bangsa Portugis yang bertujuan untuk melakukan perdagangan rempah-rempah. Rakyat Negeri Soya kemudian mengangkat senjata melawan Portugis. Perlawanan masyarakat tersebut dipimpin oleh tujuh anak Latu Selemau yang menguasai Soa Ahuseng, Soa Amangtelu, Soa Uritetu, Soa Labuhan Honipopu, dan Soa Atas. Perlawanan ini ternyata tidak membuahkan hasil. Kerajaan Soya takluk kepada Portugis. Kekalahan ini berhasil merubah wajah dan status Negeri Soya dari sebuah kerajaan yang berdaulat menjadi bagian dari daerah yang dikuasai oleh Portugis. Rakyatnya kemudian diinjili dan dibaptis oleh Fransiscus Xaverius dan menjadikan orang Soya beragama Kristen Katolik. Orang Soya yang tidak mau menyerah  terus bertahan di puncak Gunung Sirimau. Mereka hidup terisolir serta tidak mempunyai hubungan dengan kerajaan lainnya.
Pada tahun 1605 armada VOC dibawah Pimpinan Steven vander Hagen memasuki labuhan Honipopu dan menyerang Benteng Portugis dari arah laut serta mengambil alih Benteng  Portugis dan diberi nama Victoria. Kemenangan VOC atas Portugis  membuka peluang bagi disebarkannya paham agama Kristen Protestan oleh Pendeta-Pendeta VOC. Hasilnya adalah, banyak orang Kristen Katholik beralih menjadi Kristen Protestan.
Kegiatan penginjilan ini dikaitkan dengan kepentingan VOC dalam menegakkan kekuasaan kolonial di Pulau Ambon. Dengan hak-hak istimewa yang mereka miliki dari Kerajaan Belanda, mereka gunakan untuk mengangkat pegawai asal pribumi termasuk juga mendidik dan menthabiskan pendeta baru asal pribumi untuk kepentingan penginjilan diantaranya; Lazarus Hitijahubessy yang diutus ke Negeri Soya untuk menyebarkan Injil pada tahun 1817. Melalui penginjilannya, Negeri Soya menjadi Kristen. Pengkristenan ini, ternyata berpengaruh terhadap adat-istiadat masyarakat Negeri. Secara adaptif nilai-nilai Kristiani dimasukan ke dalam adat maupun upacara adat seperti Rapat Negeri, Kain Gandong, Naik Baileo, Cuci Air, Cuci Negeri, naik ke puncak Gunung Sirimau dan Pesta Bulan Desember sebagai tanda persiapan/ penyambutan Natal Kristus.
Gedung gereja tua soya walaupun bentuknya yang sederhana, namun telah memberikan andil bagi sejarah Pekabaran Injil di Maluku, khususnya di Negeri Soya. Kekristenan di Negeri Soya harus diakui tidak dapat dilepaskan dari hadirnya Joseph Kham yang bertemu dengan orang-orang Kristen di Negeri Soya pada tahun 1821.  Dalam kaitannya dengan penyebaran Agama Kristen di Maluku, Gedung Gereja Soya sebenarnya mempunyai catatan sejarah tersendiri. Pertumbuhan Gedung Gereja Soya pada awalnya tidak diketahui. Untuk menampung kebutuhan kegiatan ibadah, pada tahun 1876 Raja Stephanus Jacob Rehatta memimpin orang Soya untuk memperbaiki serta memperluas bangunan Gereja secara semi permanen yang dipergunakan sampai tahun 1927.
Pada masa pemerintahan Leonard Lodiwijk Rehatta, Gedung Gereja Soya yang diperbaharui tahun 1927, pada tahun 1996 kembali dipugar dan atau direstorasi dibawah panduan Bidang Museum Sejarah dan Kepurbakalaan Kanwil Pendidikan dan Kebudayaan Maluku. Hasil ini hanya bertahan hingga 28 April 2002  Gereja Soya hangus terbakar. Gedung Gereja Tua Soya yang telah menjadi Bangunan Cagar Budaya kemudian berhasil dibangun kembali dan diresmikan oleh Ketua Sinode GPM Dr. Chr. J. Ruhulessin, M.Si dan Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu.  

c.   Asal Mula Upacara Adat Cuci Negeri
Menurut sumber yang ada, pada waktu dulu upacara adat cuci negeri  berlangsung selama lima hari berturut-turut. Segera setelah musim Barat (bertiupnya angin barat) yang jatuh pada bulan Desember,  Upacara cuci negeri dimulai. Mereka percaya bahwa dengan bertiupnya angin barat,  akan membawa serta datuk-datuk. Pada malam hari menjelang hari pertama dengan dipimpin oleh “Upu Nee” (initiator), para pemuda berkumpul di Samorele. Mereka mengenakan “cidaku” (Cawat), sedangkan mukanya dicat hitam (guna penyamaran), sebaliknya,  semua wanita dilarang  keluar rumah.
Para pemuda dengan dipimpin oleh Upu Nee menuju ke Sirimau tempat bersemayam Upulatu yang didampingi oleh seekor Naga. Upu Nee berjalan mendahului rombongan dan memberitahukan Upulatu bahwa, para pemuda akan datang dari clan-clan dimana mereka berasal.
Menjelang tengah malam, para pemuda yang ada didudukan dalam posisi bertolak belakang. Dalam keadaan seperti itu, datanglah naga menelan mereka, dan menyimpan mereka selama lima hari dalam perutnya. Pada tengah hari pada hari kelima, Naga kemudian memuntahkan mereka. Masing-masing orang dari mereka kemudian menerima tanda, suatu lukisan berbentuk segi tiga pada dahi, dada, dan perut. Sementara itu,  para wanita dan orang-orang tua telah membersihkan Samasuru dan Negeri. Menjelang tengah hari, turunlah Upulatu bersama pemuda-pemuda tadi dari tempat Naga menuju Samasuru. Di sana, keluarganya  telah menunggu. Dalam prosesi tersebut, lagu-lagu tua dan suci dinyanyikan (suhat) Raja / Upulatu mengambil tempat pada batu tempat duduknya (PETERANA) dan berbicaralah Raja  dari tempat itu (Batu Stori Peterana) sambil menengadahkan mukanya ke Gunung Sirimau.
Sejarah mengenai jasa-jasa, pekerjaan-pekerjaan besar dari para datuk-datuk, sifat kepahlawanan mereka diceritakan kepada semua orang yang sedang berkumpul. Permohonan-permohonan dinaikan kepada Ilahi (dalam bentuk KAPATA) yang antara lain berkisa kepada penyelamatan negeri Soya beserta penduduknya dari bahaya, penyakit menular, dan mohon kelimpahan berkah, Taufik dan Hidayat-Nya kepada semua orang. Selesai ini semua,  semua orang pun berdiri dan dua orang wanita (Mata Ina) yang tertua dari keluarga (Rumah Tau), Upulatu melilitkan sebuah pita yang berwarna putih melingkari orang itu (Kain Gandong Sekarang).
Dari cerita tua ini, nampak jelas pengaruh dari Upacara Tanda ala KAKEHANG di Seram Barat. Dapat ditarik kesimpulan bahwa pada waktu dulu  upacara adat di Baileo (Samasuru)  dilakukan untuk merayakan lulusnya para pemuda yang lulus dari upacara initiati di puncak Gunung Sirimau  tersebut. Kemudian setelah masuknya agama Kristen yang dibawa oleh orang Portugis dan Belanda, maka penyelenggaraan upacara ini mengalami perubahan bentuk. Selanjutnya dengan cara evolusi yang terjadi di dalam masyarakat yang meliputi segi pendidikan, kerohanian, sosial, dan lain-lain, sebagaimana penyelenggaraannya dalam bentuk sekarang.               
Maksud dari penyelenggaraan dan perayaan upacara adat tiap tahun di Negeri Soya oleh penduduk serta semua orang yang merasa hubungan kelaurganya dengan  Negeri Soya bukan semata-mata didasarkan oleh sifatnya yang tradisionil, tetapi lebih dari itu dimaksudkan untuk memelihara, dan atau  menghidupkan secara  terus menerus kepada generasi  sekarang maupun yang akan datang, berkenaan dengan, sifat dan nilai-nilainya yang positif.
Tidak dapat disangkal bahwa dari keseluruhan upacara adat ini, terdapat sejumlah hal penting antara lain: Persatuan, musyawarah, gotong royong, kebersihan, dan toleransi. Unsur-unsur tersebut di atas yang menjadikan upacara adat cuci negeri dapat  bertahan sampai saat ini. Maksud perayaan penyelenggaraan setiap kali menjelang akhir tahun tersebut dapatlah dijelaskan sebagai berikut :
Bahwa datuk-datuk/para leluhur dahulu memilih waktu pelaksanaan upacara adat tersebut tepat di bulan Desember , saat  permulaan  musim barat (waktu bertiup angin darat). Menurut kepercayaan mereka pada waktu itu, arwah leluhur biasanya kembali dari tempat-tempat peristirahatannya ke tempat-tempat dimana mereka pernah hidup. Disamping itu, ada kepercayaan bahwa sehabis musim timur/hujan,  biasanya keadaan yang diakibatkan selama musim hujan itu sangat banyak, antara lain : tanah longsor, rumah-rumah bocor, pagar dan jembatan rusak, sumur-sumur menjadi kotor dan banyak lagi hal-hal lain yang harus dibersihkan, dibetulkan, diperbaharui.
Untuk membenahi hal-hal yang diakibatkan oleh kejadian alam tersebut, maka para datuk-datuk menyelenggarakan upacara serta aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan penataan negeri dari berbagai kerusakan yang terjadi.
Dengan masuknya agama Kristen yang dibawa oleh Bangsa Barat, maka beberapa hal yang berbau animisme dan dinamisme ditanggalkan dan disesuaikan dengan ajaran Kristen seperti: meniadakan persiapan-persiapan untuk menyambut arwah-arwah leluhur. Makna kegiatan ini juga kemudian dikaitkan dengan ajaran Kristen dalam kaitannya dengan persiapan-persiapan perayaan Natal. Makna dari cuci negeri ini lebih ditonjolkan dengan maksud untuk mempersiapkan masyarakat dalam menyambut Anak Natal.
Upacara cuci negeri dengan demikian lebih bersifat menyucikan diri dari perasaan perseteruan, kedengkian, curiga-mencurigai (Simbolnya pada : turun mencuci tangan, kaki, dan muka di air Wai Werhalouw dan Unuwei). Dari segi keagamaan, penyelenggaraan ini yang kebetulan berlangsung pada awal bulan Desember mempunyai makna yang luas dalam menyongsong dan menyambut hari Raya Natal, Kunci Tahun dan Tahun Baru. Kesibukan di hari-hari ini sekaligus merupakan hari-hari atau minggu advent untuk persiapan perayaan hari raya berikutnya dengan keadaan yang cukup baik.
Sejak dahulu Negeri Soya telah terkenal dengan Upacara Adat “Cuci Negeri”. Upacara ini menarik perhatian banyak wisatawan baik dalam maupun luar negeri, serta para ilmuan. Seorang Anthropolog Amerika, Dr. Frank Cooley telah menyelesaikan disertasinya yang berjudul “Altar and Throne in Central Moluccan Societies” untuk mencapai gelar Doktor dengan mempergunakan banyak sekali data-data dari upacara adat tersebut.
        Adapun proses  jalannya upacara adat “Cuci Negeri” dapat dijelaskan  sebagai berikut :
o   Rapat Saniri Besar
o   Pembersihan Negeri
o   Naik ke Gunung Sirimau dan Matawana
o   Turun dari Gunung Sirimau dan Penyambutan di Rulimena
o   Upacara Naik Baileo Samasuru
o   Kunjungan ke Wai Werhalouw dan Uniwei
o   Persatuan dalam  Kain Gandong
o   Kembali Ke Rumah Upulatu (Raja)
o   Pesta Negeri
o   Cuci Air 

1.       Rapat Saniri Besar
Upacara adat Cuci negeri biasanya diselenggarakan pada setiap minggu kedua bulan Desember. Sebelum pelaksanaan upacara, pada tanggal 1 Desember selalu diadakan Rapat Saniri Besar,  dimana berkumpul semua orang laki-laki yang dewasa, bersama Badan Saniri Negeri, serta Tua-Tua Adat untuk bermusyawarah membicarakan persoalan Negeri. Dalam musyawarah ini, terjadi dialog antara pemerintah dan rakyat secara langsung mengenai berbagai hal yang telah dipersiapkan oleh Saniri atas dasar Surat Masuk maupun yang langsung disampaikan oleh rakyat yang hadir pada saat itu. Pada rapat inilah,  masalah upacara adat dibicarakan.   

2.       Pembersihan Negeri
Pada hari Rabu minggu kedua bulan Desember semua rakyat diwajibkan keluar untuk membersihkan negeri secara gotong royong. Pembersihan tersebut dimulai dari depan Gereja sampai ke Batu Besar, pekuburan, dan Baileo. Dalam kerja ini, Seorang wanita yang baru saja kawin dengan seorang pemuda Negeri Soya diterima sebagai “Mata Ina Baru” yang wajib mengambil bagian dalam  upacara ini untuk menunjukkan ketaatannya kepada adat Negeri Soya.
Berkenaan dengan pembersihan Baileo, proses ini diawali oleh Kepala Soa Adat yang biasanya disebut “pica baileo”. Proses ini kemudian dilanjutkan oleh setiap anak negeri Soya yang hadir pada saat itu. Yang menonjol dari suasana pembersihan negeri ini adalah suasana gotong royong, kekeluargaan, dan persatuan.

3.       Naik Ke Gunung Sirimau
Pada hari Kamis malam  minggu kedua, sekumpulan orang laki-laki yang berasal dari Rumah Tau tertentu (Soa Pera) berkumpul di Teong Tunisou untuk selanjutnya naik ke Puncak Gunung Sirimau. Dengan iringan pukulan tifa, gong, dan tiupan “Kuli Bia” (kulit siput). Di sana, mereka membersihkan Puncak Gunung Sirimau sambil menahan haus dan lapar.

4.       Turun dari Gunung Sirimau dan Penyambutan di Rulimena
Keesokan harinya, Jumat sore, orang-orang laki-laki yang sejak malam berada di puncak Gunung Sirimau turun dari Gunung Sirimau. Mereka  kemudian disambut untuk pertama kalinya di Soa Erang (Teung Rulimena). Di sana mereka  dijamu dengan sirih pinang, serta sopi.. Setelah itu rombongan menuju baileu. Di   Baileo mereka disambut oleh Mata Ina dengan gembiranya. 

5.       Upacara “Naik Baileo” (Samasuru)
Mempersiapkan upacara Naik Baileo, rombongan “mata Ina” (ibu-ibu) dengan iringan tifa gong,  pergi menjemput Upulatu (Raja) serta membawanya ke Baileo,  sementara seluruh rakyat telah ber-kumpul di Baileo menantikan Raja dan rombongan. Di pintu Baileo,  Upulatu disambut oleh seorang Mata Ina dengan ucapan selamat datang serta kata-kata penghormatan sebagai berikut :: “Tabea Upulatu Jisayehu,  Nyora Latu Jisayehu, Guru Latu Jisayehu. Upu Wisawosi, Selamat datang  -  Silahkan Masuk ” -  Raja kemudian memasuki Baileu dan saat itu upacara segera dimulai.
Dengan iringan tifa dan gong yang bersemangat, para “Mata Ina” secara simbolik membersihkan baileu dengan sapu lidi dan gadihu, suatu tanda berakhirnya pembersihan negeri secara keseluruhan.
Kepala Soa sedang melakukan Pasawari Adat
Setelah itu, Upulatu melanjutkan acara dengan menyampaikan titahnya kepada rakyat. Titah itu mempunyai arti yang besar bagi rakyat, yang oleh rakyat dipandang sebagai suatu pidato tahu-an yang disampaikan oleh Raja. Tita Upulatu kemudian dilanjutkan oleh Pendeta (Guru Latu)  yang selanjutnya dikuti dengan penjelasan tentang arti Kain Gan-dong oleh salah seorang Kepala Soa yang tertua. Selanjutnya Kepala Soa Adat melaksanakan tugasnya dengan “Pasawari Adat” atau “Kapata”,  suatu ucapan dalam bahasa tanah yang dimaksudkan untuk memintakan dari Allah perlindungan bagi negeri, jauhkan penyakit-penyakit, memberikan panen yang cukup, serta pertambahan jiwa untuk negeri.
Sesudah itu segera tifa dibunyikan dan “suhat” (Nyanyian Adat) mulai dinyanyikan. Pada garis besarnya nyanyian tersebut mengisahkan peringatan kepada Latu Selemau serta datuk-datuk yang telah membentuk negeri ini, penghormatan kepada tugu-tugu peringatan dari kedatangan Rumah-Tau (Teung serta penghargaan kepada air yang memberi hidup) (Wai Werhalouw dan Unuwei).
 
 6.     Kunjungan ke Wai Werhalouw dan Uniwei
Sambil menyanyi, rombongan terbagi dua, sebagian menuju air Unuwei, (anak Soa Erang dan Rakyat lainnya). Di sana setiap orang mencuci tangan, kaki, dll, kemudian rombongan yang datang dari air Unuwei berkumpul di Soa Erang (Teung Rulimena) sambil menantikan rombongan dari Wai Werhalouw (Soa Pera).  

7.       Persatuan Dalam “Kain Gandong”
Rombongan bersatu dalam  kain gandong
Di Teung Tunisouw, telah dipersiapkan Kain Gandong yang kedua ujungnya dipegang oleh dua orang “Mata Ina” yang tertua dari Soa Pera membentuk huruf U menantikan rombongan yang naik dari Wai Werhalouw. Setelah rombongan ini masuk ke dalam Kain Gandong, maka Kain Gandong diputar-putar sebanyak tiga kali (sebutan orang Soya: Dibailele) mengelilingi rombongan, kemudian menuju rumah Upulatu Yisayehu. Dari sini, rombongan dari Tunisou melanjutkan perjalanan menuju Soa Erang (Rulimena) untuk menjemput rombongan. di Soa Erang, rombongan dari Tunisou dielu-elukan oleh rombong-an Soa Erang yang kemudian menyatukan diri dalam Kain Gandong. Di tempat itu pula Kain Gandong diputar-putar sebanyak tiga kali mengelilingi rombongan yang telah bersatu  tersebut.
Rombongan Soa Pera dijamu oleh rombongan Soa Erang dengan hidangan ala kadarnya sebagai penghormatan dan rasa persatuan. Disamping itu, disediakan juga satu meja persatuan dengan makanan adat bagi para tamu yang tidak pergi ke Unuwei. Selanjutnya kedua rombongan yang telah bersatu dalam Kain Gandong tersebut sambil bersuhat menuju kembali ke rumah Upulatu. 

8.       Kembali Ke Rumah Upulatu
Di rumah Upulatu, rombongan kemudian menggendong Upulatu dan istrinya dan orang tua-tua lainnya ke dalam kain gandong sambil berpantun. Dengan demikian lengkaplah seluruh unsur dalam negeri sebagai satu kesatuan. Prosesi ini menandai berakhirnya seluruh rangkaian upacara.  Prosesi ini kemudian  dibubarkan,  dan Kain Gandong disimpan di rumah Upulatu. Para tamu yang ada kemudian  dijamu dengan makanan adat di rumah Upulatu. 

9.       Pesta Negeri
Upacara Cuci Negeri akan menjadi lengkap dengan pesta negeri yang merupakan suatu ungkapan suka-cita, kebersamaan, dan kekeluargaan, atas semua proses upacara cuci negeri yang boleh dilakukan.  Pesta ini biasanya sangat meriah karena dihadiri oleh seluruh rakyat. Pesta itu diisi dengan badendang, tifa, Totobuang, Menari, dll. 

10.   Cuci Air
Pada keesokan harinya, Sabtu,  setelah berpesta semalam suntuk, semua orang menuju kedua air (Wai Werhalouw dan Unuwei) untuk membersihkannya. Hal ini dimaksudkan agar  air selalu bersih untuk dapat digunakan oleh masyarakat.  

11. Musik dan tarian Negeri Soya
Masyarakat Negeri Soya pada umumnya yang mendiami daerah-daerah di sekitar kawasan Hutan Lindung Gunung Sirimau khususnya memilki berbagai aneka potensi seni budaya. Potensi seni budaya itu berupa tarian daerah, alat musik khas daerah serta upacara adat. Musik dan tarian ini sering dibawakan pada upacara adat, perkawinan maupun menyambut tamu yang diiringi alat musik tradisional seperti tifa, suling, totobuang, dan gitar. Bagi masyarakat Negeri Soya salah satu tarian yang sangat terkenal yaitu Tari Tujuh Lompat. Tarian ini terdiri dari 28 orang yang terbagi atas14 laki-laki dan 14 perempuan. Formasi tarian tujuh lompat ini membentuk huruf W yang berarti raja Wihelmus dari Belanda. Oleh karena itu tarian ini berasal dari Portugis belanda.


 KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
  1. Potensi Objek dan Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) yang dimiliki Hutan Lindung Gunung Sirimau, antara lain berupa keanekaragaman hayati, keindahan bentangan alam, keaslian budaya tradisional, musik dan kesenian daerah, peninggalan sejarah atau budaya yang secara optimal dapat dikembangkan untuk kesejahteraan masyarakat. 
  2. Pengelolaan Hutan Lindung Gunung Sirimau menempati posisi pada  Kuadran Pertama strategi (SO) diagram SWOT, sehingga alternatif strategi yang dirumuskan berdasarkan pertimbangan pengelolaan Hutan Lindung Gunung Sirimau yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan dan peluang sebesar-besarnya. 
  3. Prioritas strategi yang tepat untuk pengelolaan ekowisata pada kawasan Hutan Lindung Gunung Sirimau yaitu (1) Mempromosikan nilai potensi dan budaya yang dimiliki HLGS serta produk wisata unggulan lainnya. (4,15); (2) Merumuskan kebijakan daerah tentang pengelolaan HLGS (3,40); (3) Mengembangkan paket agrowisata (3,2); (4) Meningkatkan ekonomi kerakyatan dan pemberdayaan masyarakat (2,77) dan (5) Meningkatkan peran dan kinerja para stakeholders dalam pengelolaan HLGS (2,60)

Saran terhadap Pengembangan Hutan Lindung Gunung Sirimau kedepannya yaitu :
  1. Keseluruhan potensi ODTWA di Hutan Lindung Gunung Sirimau merupakan suatu aset Negara yang tidak ternilai harganya, oleh karenanya untuk meraih sasaran pengelolaan secara optimal, maka pengelolaannya harus dilaksanakan secara terkoordinasi, terintegrasi dan berkelanjutan. 
  2. Diperlukan penelitian lanjutan pada daerah-daerah lainnya untuk mendukung program pemerintah kota dalam mengembangkan ekowisata di Kota Ambon.
"SEMOGA BERMANFAAT"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar